PERINGATAN KONFERENSI ASIA AFRIKA KE-62, DIMERIAHKAN DENGAN PAMERAN ARSIP ASLI KAA

18 April 2017

Arsip Nasional Republik Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dan Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia menyelenggarakan Pameran Arsip Konferensi Asia Afrika (KAA) di Istana Negara, Jakarta. Pameran Arsip KAA dilaksanakan dalam rangka memperingati 62 Tahun Konferensi Asia Afrika. Pada kesempatan ini, Presiden Joko Widodo membuka acara Peringatan dan Pameran Arsip KAA yang mengangkat tema "Live and Let Live, Unity and Diversity" (18/04).

Presiden Joko Widodo dalam sambutannya menyampaikan makna penting tema yang diangkat pada tahun ini dalam kehidupan keberagaman dan melihat kondisi kekinian. "Negara-negara maju sekarang sedang gelisah. Perasaan aman yang terganggu, toleransi mereka yang terkoyak, dihantui terorisme, dihantui ekstremisme, dihantui radikalisme, dan mereka sedang mencari referensi nilai-nilai dalam mengelola keberagaman," terang Jokowi.

Jokowi juga menyampaikan bahwa Indonesia patut bersyukur karena telah memiliki kodrat sebagai bangsa yang Bhinneka Tunggal Ika dan mampu mengelola keberagaman dan kemajemukan. "Sekarang Indonesia menjadi rujukan dalam mengelola keberagaman suku, mengelola mengelola keragaman ras dan mengelola keberagaman antar golongan," ungkapnya.

Pameran arsip KAA bertujuan untuk meningkatkan akses universal terhadap arsip KAA yang telah menjadi Memory of the World (MoW) kepada publik. Pameran merupakan salah satu strategi pemasyarakatan arsip kepada publik yang sering dan secara terus menerus dilakukan, baik secara langsung seperti saat ini maupun secara virtual. Misi fundamental pameran arsip adalah meningkatkan akses terhadap khazanah arsip yang disimpan oleh lembaga kearsipan kepada publik serta meningkatkan pengetahuan publik tentang warisan dokumenter dan budaya yang dimiliki oleh bangsa ini.

Adapun hal yang sangat menarik pada Pameran Arsip KAA kali ini, panitia penyelenggara pameran secara khusus menampilkan beberapa arsip asli KAA, sehingga pengunjung pameran dapat melihat secara langsung keautentikan arsip KAA. Arsip KAA sendiri telah mendapat pengakuan dari UNESCO sebagai Memory of the World (MoW) pada tgl 6 Oktober 2015. Dengan demikian, Arsip KAA sudah menjadi milik dunia dan nilai nilai KAA wajib disebarkan kepada seluruh warga dunia agar dapat mengambil pelajaran dari semangat keberagaman, solidaritas, universalitas dan nilai-nilai luhur lainnya.  Arsip KAA yang telah diregistrasi sebagai MoW terdiri dari berbagai bentuk dan media, yaitu arsip kertas sebanyak ± 37 berkas (1778 lembar), arsip foto sebanyak 565 lembar, dan arsip film sebanyak 7 reel.

Presiden kelima  Republik Indonesia Ibu Megawati Soekarnoputri mewakili keluarga Presiden Pertama Republik Indonesia menyampaikan makna pentingnya arsip dalam mengungkap kebenaran. "Arsip bagi saya adalah rekam sejarah, di mana kebenaran tidak dapat diingkari,” terangnya. Lebih lanjut, Megawati menambahkan arti pentingnya arsip dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Waktu saya menjabat Presiden, mohon maaf, saya adalah presiden yang berkutat pada hal menyangkut arsip, perpustakaan, dan museum. Karena saya berpikir hal-hal ini berguna bagi bangsa kita, sejarah bangsa kita, sejarah peradaban Indonesia,”  ujarnya. Mega juga sangat senang, karena arsip pidato selama berlangsungnya Konferensi Asia Afrika di Bandung, kini telah diabadikan Unesco, organisasi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) sebagai Memory of the World.

Pameran arsip KAA dalam rangka memperingati 62 Tahun KAA dihadiri oleh Perwakilan Kementerian/Lembaga terkait, para Delegasi Negara Peserta KAA, Tokoh Lintas Agama, Sejarawan, Tokoh Pelaku Sejarah KAA, Perwakilan Kepala Museum, beberapa Raja Nusantara dan Kepala Suku yang ada di Indonesia. Setelah acara peringatan KAA dibuka, masyarakat pun dapat melihat pameran arsip KAA di Museum Kebangkitan Nasional mulai 18-24 April 2017.

Di penghujung acara, Kepala ANRI Mustari memandu Presiden Jokowi, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan perwakilan keluarga Bung Karno sekaligus Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri meninjau pameran foto dan naskah asli KAA di salah satu lorong Istana Negara. (sa)