Arsip Konferensi Asia Afrika Telah Diakui UNESCO Menjadi Warisan Dunia

Konferensi Asia Afrika (KAA) merupakan perhelatan internasional pertama yang diselenggarakan di Indonesia, 10 tahun setelah diproklamasikannya kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. KAA diikuti oleh 29 negara dan dihadiri lebih dari 200 delegasi.  Konferensi yang dilaksanakan di Bumi Parahyangan, Bandung Jawa Barat pada 18 – 24 April 1955 ini dilandasi semangat dan komitmen tinggi terhadap perjuangan untuk membebaskan diri dari kolonialisme. KAA melahirkan  sebuah deklarasi “Dasa Sila Bandung” yang berhasil menjadi trigger perjuangan bangsa-bangsa Asia dan Afrika untuk memperjuangkan hak-hak kemerdekaan dan kedaulatan sebuah negara.


KAA juga menjadi tonggak sejarah munculnya kesadaran untuk membentuk gerakan Non Blok, (GNB) yang berfungsi sebagai penyeimbang dan penawar dominasi blok barat dan timur pada era perang dingin (pertengahan-akhir abad XX) hingga runtuhnya negara Uni Soviet. Dalam proses pembentukan  gerakan non blok  ini tokoh-tokoh yang memiliki peran kunci sejak awal adalah Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser, Presiden Ghana Kwame Nkrumah, Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, Presiden Indonesia, Soekarno dan Presiden Yugoslavia, Josip Broz Tito.  Kelima tokoh tersebut kemudian dikenal sebagai pendiri GNB.


Kegiatan kedua konferensi tersebut tentunya menghasilkan rekaman dalam bentuk arsip. Untuk Arsip KAA, sebagian besar arsipnya tersimpan di lima negara sponsor, yaitu Indonesia, India, Pakistan, Srilangka, dan Burma (sekarang Myanmar). Di Indonesia, Arsip KAA tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) yang terdiri dari  berbagai bentuk dan media, yaitu arsip kertas sebanyak ± 37 berkas (1778 lembar), arsip foto sebanyak 565 lembar, dan arsip film sebanyak 7 reel.
Arsip KAA memiliki keunikan isi maupun konteksnya. Ia unik dari isi atau informasinya,  arsip KAA menggambarkan sebuah peristiwa yang memiliki nilai  amat kaya dan lengkap mengenai peristiwa 18 – 24 April 1955 yang  akan menjadi ingatan bersama bagi negara-negara di Asia Afrika. Konteks arsip KAA memberi gambaran waktu, tempat, kejadian, dan iklim politik dunia yang dikuasai oleh dua blok pada masa itu. Konteks arsip tersebut menunjukkan bergeloranya semangat negara-negara Asia Afrika peserta konferensi untuk memperjuangkan hak-hak dasar dan keinginan memajukan kehidupan dunia. Arsip tentang peristiwa KAA mewakili semangat dan solidaritas yang melampaui batas negara dan mampu memberi kontribusi terhadap terciptanya kesejahteraan negara-negara di dunia dengan hilangnya persaingan di antara negara-negara tersebut. Mengingat arsip KAA merupakan warisan dunia yang sangat bernilai mulai tahun 2012 ANRI sudah mencanangkan bahwa arsip KAA layak menjadi Memory of the World (MoW).


MoW atau ingatan dunia atau warisan dokumenter didefinisikan sebagai ingatan manusia dari peradaban kuno dan modern yang mewakili sebagian besar dari warisan budaya dunia yang mencerminkan keragaman bahasa dan budaya. Sebagian besar dokumenter tersebut dikelola oleh lembaga kearsipan, perpustakaan, dan museum. Banyak kondisi dokumenter tersebut dalam keadaan terancam punah karena terkena bencana seperti banjir, kebakaran, atau karena tidak terpelihara dengan baik.


UNESCO membentuk program MoW pada tahun 1992. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat di seluruh dunia akan eksistensi dan makna warisan budaya yang terdokumentasi, untuk memfasilitasi proses preservasi warisan budaya dengan teknik-teknik paling maju, dan untuk mempromosikan akses universalnya.


Pada dasarnya, MoW yang menjadi program UNESCO ini bertujuan melestarikan kekayaan bangsa-bangsa di dunia dalam bentuk warisan budaya terdokumentasi (documentary heritage)karena mengandung nilai tinggi. Dokumen asli ini dapat berbentuk: manuskrip, arsip, film, foto, dan lain-lain. Selain itu program ini bertujuan untuk membantu akses pada warisan dokumenter dunia serta meningkatkan kesadaran dari keberadaan pentingnya warisan dokumen.
Di Indonesia dibentuk Komite MoW Indonesia yang merupakan lembaga nonstruktural yang berada di dalam lingkungan organisasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan bersifat koordinatif dengan Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU).


Arsip KAA memiliki keunikan tersendiri dalam konteksnya, arsip KAA juga memiliki  dampak jauh terhadap sesuatu yang lebih luas, lebih universal tidak untuk kepentingan akademis semata namun juga untuk kemanusiaan, arsip KAA tidak hanya simpul ingatan kolektif nasional namun juga simpul ingatan dunia, memory of the world.


Pada tahun 2012, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) mulai melakukan penjajakan untuk berinisiatif mengajukan arsip KAA sebagai MoW. Agar arsip tersebut dapat menjadi MoW, ANRI harus dapat membuktikan arsip tersebut tersedia dan terawat dengan baik serta dialihmediakan sehingga mudah diakses. Selain itu, ANRI juga menjalin kerja sama dengan berbagai negara sponsor KAA untuk melakukan joint nomination.


Pengajuan arsip KAA dan GNB sebagai MoW ini juga resmi mendapat dukungan dari Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarno Putri. Dalam pidatonya saat Seminar Internasional dan Rountable Meeting Arsip KAA dan GNB sebagai MoW Megawati menyampaikan bahwa KAA dan GNB merupakan satu mata rantai perjuangan membangun peradaban dunia baru yang lebih berkeadilan, aman, dan damai. “Memori saya spontan kembali ke 54 tahun silam. Saat itu saya baru berusia 14 tahun dan menjadi delegasi termuda pada KTT Non Blok 1 di Beograde pada tahun 1961. Kenangan yang indah dan melekat begitu kuat, khususnya ketika saya mendampingi ayah saya Presiden Republik Indonesia Soekarno, pada saat Beliau berbicara, berdiskusi dengan pemimpin-pemimpin penting di dunia pada saat itu seperti Presiden Yugoslavia -Joseph Broz Tito, Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser, Perdana Menteri Jawaharlal Nehru, Presiden Ghana Kwame Nkrumah dan banyak pemimpin dari negara peserta KTT 1 Non Blok. Di situlah saya mendengarkan secara langsung, suatu gagasan besar dari para pemimpin dunia, terhadap pentingnya tatanan dunia baru yang terbebas dari segala bentuk penjajahan. Atas dasar hal itulah, saya memberikan dukungan sepenuhnya terhadap upaya menjadikan seluruh dokumen kedua peristiwa tersebut untuk diterima sebagai program UNESCO, yaitu Memory of The World. Upaya ini sangatlah penting. Sebab, menyelamatkan arsip dan dokumen KAA dan GNB merupakan sebuah proses enlightment (pencerahan),” tegas Megawati.


Pada tahun 2014, Indonesia telah mengirimkan formulir penominasian arsip KAA sebagai MoW kepada UNESCO. Berikut adalah kronologis penominasian hingga diakuinya arsip KAA sebagai MoW:

No

Waktu

Kegiatan

1

18-20 April 2012

Konsultasi dengan Museum KAA di Bandung dalam rangka menyusun Guide Arsip KAA

2

3 Oktober 2012

Konsultasi dengan Komite Nasional MoW Indonesia di Jakarta

3

27-29 November 2012

Rapat Koordinasi preservasi arsip dan MoW di Jakarta

4

21 Desember 2012

Focus Group Discussion persiapan penominasian Arsip KAA sebagai MoW di Jakarta

5

23 April 2013

Workshop penyusunan formulir nominasi di Bogor

6

23-25 Mei 2013

Konsultasi dan pengintegrasian koleksi dengan Museum KAA di Bandung

7

10 Februari 2014

Rapat pembahasan redaksi formulir nominasi dengan Komite MoW Indonesia, di Jakarta

8

14 Februari 2014

Meeting dengan Museum KAA di Jakarta

9

21 Maret 2014

Focus Group Discussion finalisasi formulir nominasi di Bogor

10

September 2014

Penyampaian formulir nominasi

11

17-18 September 2014

Konsultasi dengan KBRI Perancis dan Wakil RI di UNESCO di Paris

12

Desember

2014 dan Januari 2015

Konsultasi dengan Arsip Nasional India, Pakistan, Myanmar, dan Sri Lanka

13

24 – 27 Maret 2015

Workshop MoW di Suzhou China

14

26-28 Mei 2015

Seminar Internasional dan Rountable Meeting Arsip KAA dan GNB sebagai MoW di Jakarta

15

6 Oktober 2015

Arsip KAA dipublikasikan UNESCO resmi menjadi MoW


Pada 6 Oktober 2015, berdasarkan sidang UNESCO di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab membuahkan hasil penetapan arsip KAA resmi menjadi MoW. Sejatinya, saat suatu warisan budaya dokumentaer (dalam hal ini arsip KAA) yang telah ditetapkan menjadi MoW maka arsip tersebut harus diperhatikan proses preservasinya, bagaimana akses universal terhadap arsip tersebut serta bagaimana kesadaran masyarakat di seluruh dunia akan eksistensi dan makna arsip KAA tersebut.

Arsip-Konferensi Asia Afrika telah dibuka aksesnya melalui finding aids berupa Guide Tematis Arsip Konferensi Asia Afrika, Guide (terlampir) https://goo.gl/Wd4yyt

Arsip2 bisa dilihat di link berikut (hanya 8 foto yg jg telah di upload ke website UNESCO) https://goo.gl/9BLHOy untuk akses selanjutnya bisa menyampaikan permintaan melalui ruang baca

RECENT POSTS

ANRI dan SAAC Gelar Pameran Arsip Indonesia-Tiongkok

Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dan State Archives Administration of China (SAAC) gelar Join Exhibition Socio Cultural Relationship Indonesia dan Tiongkok di Capital Museum Beijing, 20 Juni 2017. Pameran dihadiri oleh Kepala ANRI Mustari Irawan, Director General of SAAC, dan Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok, Bapak Sugeng Rahardjo (Berita Foto/Dok. ANRI).